Kenali Varian baru COVID-19 EG.5 atau Eris, Sakit Kepala Jadi Salah Satu Gejalanya!

Kenali Varian baru COVID-19 EG.5 atau Eris, Sakit Kepala Jadi Salah Satu Gejalanya!

Beberapa minggu belakangan ini, dunia kesehatan kembali dihebohkan dengan munculnya varian-varian baru dari virus SARS-CoV-2, temasuk di Indonesia. Salah satu varian terbaru yang menjadi sorotan adalah Varian Epsilon Gamma yang juga dikenal sebagai EG.5 atau Eris. Agar lebih waspada, yuk kenali varian baru berikut ini!

 

Apa Itu Varian Epsilon Gamma (EG.5 atau Eris)?

Melansir dari CNBC Indonesia, varian Epsilon Gamma (EG.5) atau dikenal sebagai Eris adalah termasuk dalam kelompok varian yang secara umum dikenal sebagai variants of concern (VOC) atau varian yang mendapatkan perhatian khusus karena mungkin memiliki dampak signifikan terhadap penyebaran penyakit, tingkat keparahan, atau efikasi vaksin.

 

Ciri-ciri dan karakteristik varian Eris

Berbeda dengan beberapa varian virus SARS-CoV-2 sebelumnya, varian Epsilon Gamma (EG.5) atau Eris memilki karakteristik sebagai berikut.

  1. Mutasi spike protein

Varian Eris mengandung mutasi pada protein spike yang merupakan bagian virus yang melekat pada sel manusia. Mutasi ini dapat memengaruhi sifat virus, termasuk potensi penularan dan kemampuannya untuk menghindari sistem kekebalan.

  1. Peningkatan penularan

Ada kekhawatiran bahwa varian Eris dapat memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi daripada varian sebelumnya. Hal ini memicu perhatian karena peningkatan penularan dapat berdampak pada laju penyebaran virus di lingkungan yang lebih luas.

 

Mengutip penjelasan dari dr. Albert Ko, seorang dokter penyakit menular dan profesor di Yale School of Public Health, varian EG.5 mirip dengan varian Omicron, namun besar kemungkinan lebih mudah menular karena memiliki sifat pelepasan kekebalan yang lebih tinggi dibandingkan varian lainnya.

 

  1. Kemungkinan pengaruh terhadap vaksinasi

Studi awal menunjukkan bahwa varian Eris dapat memengaruhi efikasi vaksinasi. Meskipun vaksin masih memberikan perlindungan terhadap varian ini, kemungkinan diperlukan strategi peningkatan vaksinasi atau pembaruan vaksin untuk menghadapi perkembangan varian tersebut.

 

Gejala yang dikaitkan dengan varian Eris

Sejauh ini, gejala yang dikaitkan dengan varian Epsilon Gamma tampaknya serupa dengan gejala umum COVID-19, seperti:

  • Sakit kepala
  • Alergi
  • Demam atau meriang
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Kelelahan
  • Badan dan otot pegal
  • Sakit tenggorokan
  • Hidung berlendir
  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Kehilangan penciuman dan pengecapan dalam jumlah sedikit

 

Tindakan penanganan dan protokol kesehatan

Tetap waspada, berikut ini beberapa tindakan pencegahan yang bisa dilakukan untuk mengatasi dan mencegah penularan virus COVID varian Eris di lingkungan Anda:

  1. Melakukan vaksinasi lengkap.
  2. Tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah disarankan, termasuk penggunaan masker, menjaga jarak fisik, mencuci tangan secara teratur, dan menghindari kerumunan.
  3. Membatasi kegiatan di luar ruangan, terutama jika kondisi tubuh sedang tidak fit.
  4. Jika mulai merasakan beberapa gejala di atas, pastikan untuk segera melakukan isolasi mandiri. Bila perlu, lakukan swab test untuk memastikan kondisi kesehatan dan mengetahui langkah apa saja yang harus dilakukan.
  5. Anda bisa minum obat sesuai dengan gejala yang dialami. Misalnya saat timbul sakit kepala yang diikuti dengan demam dan nyeri otot, pilih obat pereda sakit kepala yang yang bekerja secara aktif mengatasi sakit kepala dan juga rasa nyeri pada otot.

 

Varian baru seperti Epsilon Gamma (EG.5 atau Eris) menunjukkan perlunya kewaspadaan terus-menerus dalam menanggapi evolusi virus SARS-CoV-2. Penting untuk tetap informasi melalui sumber kesehatan resmi dan mematuhi panduan kesehatan setempat. Melibatkan diri dalam vaksinasi dan menerapkan tindakan pencegahan yang dianjurkan dapat membantu melindungi diri dan orang lain dari penyebaran COVID-19 dan varian-varian terkait. Pastikan untuk menerapkan protokol kesehatan dengan baik, ya!

 

Artikel Lainnya: Benarkah Bahwa Mengonsumsi Makanan Tinggi MSG Dapat Memicu Sakit Kepala?